Disable Preloader

Berita

27 Juli 2021

Dukung Ketahanan Air, Profesor LIPI Angkat Teknologi Instrumentasi Neraca Air Terpadu

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika LIPI) menjadi salah satu kandidat profesor riset yang dilantik LIPI pada Selasa (27/7). Adalah Sensus Wijonarko, peneliti bidang teknologi instrumentasi, menjadi profesor riset ke-152 di ingkungan LIPI. Dalam acara yang berangsung secara virtual, Sensus menyampaikan orasinya yang berjudul “Instrumentasi Neraca Air dalam Sistem Pengamat Hidrometeorologi Terpadu untuk Upaya Mewujudkan Ketahanan Air.

Air adalah zat esensial bagi kehidupan yang tidak tergantikan, ujarnya mengawali. “Ketahanan air (water resilience) adalah salah satu masalah utama bagi sebagian besar negara di dunia saat ini,” ujarnya. “Ketahanan air berarti terpenuhi kebutuhan air yang layak dan berkelanjutan untuk bermacam aktivitas kehidupan serta pembangunan serta terkelolanya risiko yang berkaitan dengan air,” imbuhnya.

Ketahanan air adalah salah satu masalah utama bagi sebagian besar negara di dunia. Bencana terkait dengan air, seperti kekeringan, banjir, dan polusi, menyebabkan ketahanan air bermasalah. “Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai masalah dengan ketahanan air, terancam akan kekurangan air bersih,” ungkapnya.

Menurutnya, ketahanan air suatu kawasan dapat diperkirakan dari neraca air, yakni keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Hal ini diperoleh melalui metode perhitungan pergerakan air atas tanah, dalam tanah, atmosfer, dan di antara atmosfer dan tanah.  “Contohnya adalah neraca air yang pernah kami teliti belasan tahun lalu di Pulau Panggang, Kepualauan Seribu,” sebutnya.

Mengenai sistem pengamat hidrometeorologi terpadu Sensus menjelaskan definisinya. “Instrumentasi adalah sistem untuk mengukur, memantau dan/atau mengendalikan sesuatu besaran. Sementara hidrometeorologi adalah bidang penelitian interdisiplin untuk mempelajari pengalihan dan pertukaran air dan energi antara tanah dan atmosfer bagian bawah,” jelasnya.

Dirinya menjabarkan ada beberapa instrumentasi neraca air yang telah dikembangkan Sensus beserta tim risetnya. Pertama, instrumentasi neraca air kalang terbuka yang pernah diterapkan di PLTA Cirata Jawa Barat. Kedua, instrumentasi neraca air Kalang Tertutup di PDAM Serkuk, Belitung.

“Neraca air diadaptasi sesuai untuk kebutuhan pengguna,” terangnya. Ada tiga generasi WBRGC (web based rain gauge calibrator) atau kalibrator pengukur curah hujan berbasis web yang dikembangkan selama ini. Untuk yang generasi 3 memiliki sentuhan industri, proses kalibrasi, badan stabil, dan lebih ringan” urai peneliti instrumentasi ini.

Terdapat sistem pengamat hidrometeorologi global, yang mampu mengamati kondisi hidrometeorologi di sebagian besar atau seluruh penjuru dunia. Instrumentasi neraca air ini juga dapat berfungsi sebagai kalibrator perhitungan neraca air dan bisa menjadi pembanding dengan instrumentasi neraca air yang ada di tempat-tempat lain. “Neraca air itu bisa diterapkan terutama bila sudah terintegrasi dalam sistem pengamat hidrometeorologi global,” pungkasnya.

Sensus mengemukakan pentingnya aplikasi instrumentasi neraca air agar lebih bermanfaat. “Mempertimbangkan tidak hanya aspek instrumentasi, namun juga faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika air, seperti pertanian, perubahan iklim, demografi, ekonomi, masyarakat, pemerintahan, infrastruktur, politik, teknologi, dan sumber daya air. Kita juga perlu meningkatkan kolaborasi dengan produsen instrumentasi hidrometeorologi dan instansi yang dapat memanfaatkan hasil tersebut,” pungkasnya. (adl)