Disable Preloader

Berita

01 April 2021

Mengembangkan Energi Hijau dengan Teknologi Fuel Cell dan Hidrogen

Serpong, Humas LIPI. Deni Shidqi Khaerudini, peneliti Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI), pada Kamis (1/4), menyampaikan materi tentang “Perspektif dan Tantangan Pengembangan Teknologi Fuel Cell dan Hidrogen” dalam Dialog Nasional Nawacita secara daring. Deni menjelaskan betapa pentingnya energi terbarukan (green energy) dan peran fuel cell berbasis hidrogen bagi kehidupan.

Perubahan iklim bumi dan dampaknya di masa kini seperti cairnya kutub di Antartika, bahwa luas es abadi sudah menjadi tidak abadi. “Biangnya adalah emisi karbondioksida (CO2) yang dibuang ke atmosfer atau yang disebut efek rumah kaca,” ungkapnya.

Gunung Etna di Italia, meletus mengeluarkan 5,8 juta ton CO2 per tahun, di Indonesia yaitu di Krakatau Posco (Cilegon, Banten) menghasilkan 16 juta ton CO2 per tahun. Kebakaran hutan dengan luas sekitar 6879 km2 kebakaran pada tahun 2011 di Richardson Backcountry. Pengurangan es abadi yang ada di Greenland setiap tahun terus berkurang dan berkurang. Di Alaska es abadinya telah mejadi sungai, di Montana sudah berkurang luas area es abadinya,  dan di gunung Jaya Wijaya juga berkurang es abadinya. “Itu semua merupakan perubahan iklim, kenaikan temperatur, dan seterusnya. Maka kemudian para pemimpin dunia bersepakat mencoba menurunkan emisi CO2 ,” terang Deni.

Dirinya menyampaikan kondisi di Indonesia beberapa sumber pemanasan global terjadi akibat pembakaran batu bara, konversi lahan dan perusakan hutan, aktivitas dan pemakaian energi, pertanian dan limbah. “Jadi betapa pentingnya energi terbarukan atau pun energi bersih untuk keberlangsungan kehidupan. Sektor transportasi juga menyumbang CO2 yang lumayan tinggi, dan saat ini Indonesia sedang fokus pada kebijakan kendaran listrik,” tuturnya.

“Untuk menyukseskan secara nasional maupun global, terkait dengan transisi energi maka perlu missing link (tautan yang hilang) seperti hidrogen (H2). Selain itu, jika ingin dikembangkan ke arah energi hijau (green), maka bisa dengan energi berbasis angin maupun matahari, sehingga untuk aplikasi dan transportasi bisa lebih masif dan fleksibel,” ungkap Deni.

“Hidrogen (H2) berpotensi sebagai sumber energi terbarukan, pada tahun 2025, diharapkan akan memberikan kontribusi sebesar 0,25% dalam bauran energi nasional atau sekitar enam juta setara barel minyak (SBM). Untuk itu, kajian dan arahan dari pemerintah untuk menggunakan gas H2 sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) harus segera dapat dicanangkan ke depan,” harap pengurus Komite Karbon Baru dan Material Maju (KBMM) – Lembaga Kajian Nawacita (LKM).

“Bila dalam implementasinya diperuntukkan untuk bahan bakar transportasi di Indonesia, maka perlu dibangun plant dengan total kapasitas produksi sekitar 257.000-ton gas hidrogen. Gambaran harga hidrogen saat ini dalam skala produksi adalah USD 3,5 per kilogram (1 kg hidrogen sama dengan empat liter bensin). Memang masih mahal. Saat ini kita targetkan bagaimana caranya per kilogram kurang dari dua dolar,” urainya.

“Terkait dengan kebijakan, saat ini Indonesia masih berorientasi pada mobil listrik. Untuk mengakselerasi penggunaan hidrogen atau pun fuel cell, maka untuk stasiun pengisiannya kita ganti dengan berbasis fuel cell. Jadi ada stasioner untuk fuel cellnya,” imbuh alumni Hirosaki University, Jepang.

Deni mencontohkan saat ini stasiun pengisian sudah ada di Jerman Fuel Cell Charging Station (NEXUS-e GmbH) dan ini menarik kita bisa kembangkan. “Kalau pun kebijakan di Indonesia saat belum bisa, maka untuk hidrogen dan fuel cell dapat berkolaborasi dengan NEXUS-e GmbH,” ucap Deni.

Dalam melakukan aplikasi di industri, menurut Deni salah satu skenarionya adalah dengan menggabungkan antara gas alam dengan higrogen. “Kita bisa mencoba pada produksi hidrogen yaitu  tersirkulasi pada kebijakan pengelolaan limbah dengan metode daur ulang (recycling), kemudian salah satu limbah untuk energi (fuel) seperti gasifikasi, dilakukan dengan teknik pemisahan hidrogen pada reaktor membran sehingga menghasilkan hidrogen murni,” jelas Deni.

Pendekatan lainnya teknologi bahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada skala laboratorium, ini menghasilkan energi hijau dan bisa mengurangi emisi CO2 atau pelepasan CO2 ke atmosfer,” lanjutnya.

Selain itu Deni dan timnya mengolah limbah mill scale dari industri baja menjadi hematit. Pengembangan material hematit sebagai material fotoanoda PEC (photoelectrochemical water splitting) dan kombinasi material hematit sebagai material fotoanoda PEC.

Fuel cell merupakan perangkat elektrokimia yang mampu mengkonversi perubahan energi bebas suatu reaksi elektrokimia menjadi energi listrik. Hidrogen merupakan bahan bakar paling ideal untuk fuel cell karena memiliki energi per satuan berat tertinggi. “Ketersediaan hidrogen dengan kekayaan alam, mineral dan energi merupakan modal besar bila ditopang dengan kemampuan penguasaan teknologi dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kemampuan dan kemandirian bangsa,” tegasnya.

Deni berharap semoga Indonesia memulai pengembangan teknologi yang lebih tinggi lagi. “Dengan kebutuhan yang nyata yaitu kebutuhan mobil listrik, selain mengurangi karbon juga mewujudkan energi berkelanjutan,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)