Disable Preloader

Berita

23 Juli 2021

Mengenal Lebih Dekat Periset Carbon Nanotube dari Fisika LIPI

Serpong, Humas LIPI. Rike Yudianti, Kepala Pusat Penelitian Fisika - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika - LIPI), tengah menjalankan riset carbon nanotube (CNT) atau tabung nano karbon. Sensor smart fiber atau serat cerdas adalah salah satu aplikasi dari CNT. Bila dieksplorasi lebih jauh, CNT bisa digunakan dalam fotokatalis dan elektrokatalis.

CNT mempunyai permukaan sensitif terhadap perubahan di lingkungannya seperti panas, gas, maupun perubahan stres atau tekanan. “Perubahan sifat elektronik dari CNT dapat dimonitor secara langsung. Ini yang menarik dan unik sebenarnya. Akan lebih bagus jika riset eksperimen ini digabung dengan riset teori atau komputasi, untuk melihat dan mengetahui fenomena apa yang terjadi sebenarnya,” ujar wanita kelahiran Bandung ini.

Diungkapkan olehnya, rasa ingin tahu dan banyak membaca menjadi modal utama seorang periset, yang dapat menumbuhkan pikiran kritis. "Perkembangan iptek saat ini menuntut skema kolaborasi terutama untuk teknologi multidisiplin ilmu yang dapat memberikan dampak yang luas, dapat menciptakan ide baru dengan hasil yang cepat, dan dapat dipertanggung jawabkan," terangnya.

“Bisa jadi ide riset itu datang dari mitra industri yang membutuhkan bantuan  dari  periset yang kompeten dengan fasilitas riset, sehingga industri tidak perlu investasi yang besar. Kemitraan industri nasional dengan seperti ini akan memberikan dampak besar dari sisi produktivitas, penurunan impor, dan sebagainya,” lanjut Rike.

Alasan ketertarikannya menjadi periset, karena mempunyai derajat kebebasan yang tinggi dalam hal kebebasan berpikir dan mengambil keputusan. “Periset harus tetap adaptif mengikuti perkembangan kebutuhan dan iptek yang ada, tanpa harus melepaskan kompetensi dan keahliannya,” ujar peneliti yang aktif dalam kegiatan organisasi ilmiah.

Bagi peneliti yang berfokus pada nanokarbon berbasis nanokomposit untuk material fungsional ini, semua peneliti wajib turun ke laboratorium, meski ada asisten riset yang mendampingi. “Riset di laboratorium terkadang ada proses yang tidak dapat ditunda, yang harus ditunggu dan diamati, sehingga perlu asisten riset,” ungkapnya.

Dalam melakukan riset bidang fisika, dirinya mengungkapkan tidak ada perbedaan gender. “Pria dan wanita mempunyai kesempatan yang sama. Jika ditinjau dari kecepatan pemahaman, misalnya, seorang pria dapat lebih cepat memahami termodinamika dari seorang wanita. Namun tentunya perlu ilmu lain untuk studi hal itu," terang lulusan sarjana dari Institut Teknologi Bandung.

Rike menuturkan bahwa performa periset dilihat dari indikator kinerjanya. “Seorang periset dituntut harus memiliki key performance indicator (KPI) yang baik setiap tahun, sehingga riset tidak mungkin berhenti. Jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan hipotesis dan teori, periset perlu banyak membaca lagi,” jelasnya.

“Yang terpenting adalah proses riset dapat dilakukan dengan baik dan benar, sehingga menghasilkan hasil analisis yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan, apalagi harus sampai ke publik, imbuhnya.

 

Tantangan dan Harapan

Selama menjalankan aktivitas riset, Rike memiliki berbagai tantangan dan hambatan. “Ketika sedang melakukan riset, kendala pasti ada, seperti kendala administratif, teknis, maupun substantif. Itu sudah sering dialami. Namun jangan menjadi hambatan yang permanen sehingga riset jadi terhenti, tetap semangat untuk selesai. Banyak kawan dan kesempatan untuk mencari peluang pendanaan,” urai peneliti pembina madya ini.

Menurutnya, tantangan yang ada dalam bidang ilmu fisika yaitu fisika masih dianggap ilmu yang sulit untuk dipahami, sehingga kurang diminati. “Terutama yang berkaitan dengan manipulasi fenomena dari sifat fisis material berdasarkan prinsip mekanika kuantum, fisika teori, atau fisika partikel,” ungkap Rike.

“Mungkin ilmu fisika masih dianggap abstrak dan dirasa sulit untuk dipahami. Sehingga tantangan bagi kami adalah membuat ilmu fisika ini serasa mudah dan diminati,” lanjutnya.

Saat ini dengan bertambahnya perkembangan iptek, beberapa ilmu fisika sudah mewarnai bidang ilmu lainnya, seperti ilmu hayati, pertanian, dan kebencanaan. “Hal ini menjadi indikasi bahwa ilmu fisika sudah semakin terbuka dapat sinergis dengan ilmu lainnya,” ucapnya.

Dari pengalamannya selama melakukan riset, Rike sampai sejauh ini belum pernah mengalami trauma. “Hanya ada sedikit kesalahan teknis, seperti perangkat pecah, alat rusak, dan salah volume. Namun riset tetap berjalan baik, tidak menimbulkan trauma,” kenangnya.

Dirinya berharap semua kegiatan yang sedang dikerjakan dapat bermanfaat bagi semua kalangan. “Tidak hanya kegiatan riset, tapi juga ilmu pengetahuan tentang keahlian melakukan riset di laboratorium,” ujar alumni program doktoral Kyoto University.

Rike ingin ilmunya bermanfaat untuk generasi muda yang masih memiliki perjalanan panjang dalam berkarir. “Bagi seorang periset, estafet ilmu harus dilakukan, bukan untuk disimpan. Dengan menularkan ilmunya, diharapkan dapat menjadi charging untuk periset generasi muda,” tegasnya.

“Pesan saya kepada generasi muda, agar memupuk rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan harus banyak membaca,” pungkasnya.

(mfn/ ed. adl)