Disable Preloader

Berita

28 April 2021

Riset Covid-19 Klaster Material dan Instrumentasi Antivirus Kedeputian IPT-LIPI

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka memberikan umpan balik kepada para peneliti dan juga memberikan wawasan kegiatan penelitian terkait riset Covid-19, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) menyelenggarakan Sharing Session on Covid-19 Research pada Rabu (28/4) secara daring. Bersama peneliti klaster material dan instrumentasi antivirus, acara ini menghadirkan tujuh orang presenter dari Pusat Penelitian (P2) Fisika, P2 Kimia, serta P2 Metalurgi dan Material LIPI.

Deputi IPT - LIPI, Agus Haryono, dalam pengantarnya mengharapkan semua pihak dapat tertarik dengan riset-riset yang dilaksanakan oleh para peneliti, sehingga penelitian yang dilaksanakan bisa menjadi lebih sempurna. “Hasil yang dikembangkan oleh oleh para peneliti tidak berhenti di sini saja, bisa dikembangkan lebih lanjut ke tingkat yang lebih bagus lagi,” pesan Agus.

“Kita berterima kasih kepada para peneliti karena di saat pandemi para pegawai bekerja dari rumah, tetapi para peneliti ini tetap datang ke laboratorium melakukan kegiatan penelitian, menghasilkan hasil-hasil riset yang membanggakan yang bisa di-share pada pertemuan hari ini,” tambahnya.

Pada sesi pemaparan pertama, peneliti menyampaikan hasil kegiatan yang terkait dengan material yang berhubungan dengan pencegahan atau penanggulangan kondisi Covid-19.

Presenter pertama disampaikan oleh Dieni Mansur dari P2 Kimia yang berjudul Prospek Asap Cair dari kayu Putih dan Sekam Padi sebagai antivirus corona, antibakteri, dan antioksidan. Dirinya mengusulkan penelitian ini pada bulan Juni tahun lalu karena beredar berita di media massa yang memanfaatkan asap cair dari batok kelapa untuk diberikan kepada pasien Covid-19 dan pasien dinyatakan sembuh.

Asap cair batok tempurung kelapa yang diujikan langsung ke pasien Covid-19 adalah yang sudah melewati kondensasi dan penyulingan (Grade 1) yang berwarna bening. “Oleh karena itu ada dugaan sementara dari kami bahwa asap cair berkhasiat sebagai antivirus corona,” ungkap Dieni.

“Asap cair dari kayu putih dan sekam padi memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram positif dan gram negatif dengan zona hambat yang luas, sehingga berpotensi menjadi kandidat produk antibakteri,” lanjutnya.

Aga Ridhova dari P2 Metalurgi dan Material menyampaikan Sistem Lapisan Proteksi Higienis untuk Pencegahan Infeksi Terasosiasi Rumah Sakit Menggunakan Fotokatalis Aktif berbasis Logam Oksida.

Penelitiannya berfokus pada pengembangan lapisan protektif anti bakteri untuk melawan Hospital Acquired Infections (HAI) yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. “Sistem proteksi coating (pelapisan) yang diaplikasikan berbasis nanomaterial dengan pendekatan nanoteknologi,” ujarnya.

Tujuan penelitian Aga adalah mengembangkan material aktif metal oksida berbasis nanomaterial untuk aplikasi coating protektif anti bakteri. “Tantangan dari penelitian ini adalah memaksimalkan sifat fotokatalis nanomaterial sehingga bersifat efektif dengan aktivasi gelombang cahaya tampak, untuk itu strategi dari penelitian ini adalah modifikasi iksida logam, terutama nanopartikel TiO2 dan ZnO,” terangnya.

Selanjutnya, Nining Sumawati A. dari P2 Fisika menyampaikan tentang Superhydrophobic Coating Biobased pada Masker Kain sebagai Pelindung dari Droplet COVID-19. “Superhiydrophobic coating berarti lapisan yang besifat menolak air/droplet yang mungkin menyentuh permukaan lapisan masker. Sifat superhydrophobic dimiliki suatu permukaan jika sudut kontak permukaan didapatkan sebesar > 150 °,” jelas Nining.

Nining dan tim berharap droplet langsung ditolak ketika menyentuh permukaan lapisan masker. “Jika ada droplet yang berhasil menempel, mikroba/bakteri/virus yang berada dalam droplet tersebut dapat dirusak oleh sifat fotokatalitik material,” tuturnya.

Sunit Hendrana dari P2 Kimia memaparkan Metode Daur Ulang Limbah Medis Plastik dengan Rekristalisasi. “Tim kami menyediakan teknologi yang mampu menjadi alternatif untuk pengolahan limbah medis plastik yang ramah lingkungan serta produknya dapat digunakan kembali untuk kepentingan serupa,” ucapnya.

Tim dari Kelompok Penelitian Kimia Makromolekul ini menerapkan prinsip kelarutan plastik untuk mendaur ulang sampah medis plastik yang dinamakan metode rekristalisasi. “Metode ini menghasilkan kristal plastik yang bisa dipakai untuk membuat masker atau alat pelindung diri (APD) lainnya dengan kualitas serupa, sehingga kami harapkan dapat mendorong ekonomi sirkular,” jelas Sunit.

Sementara itu pada sesi kedua, peneliti menyampaikan hasil kegiatan yang terkait instrumentasi atau perangkat-perangkat untuk pencegahan Covid-19.

Gadang Priyotomo dari P2 Metalurgi dan Material mengenalkan Alat Sterilisasi Virus Covid-19 Portable untuk Masker Kain Berbasis Sinar Ultraviolet (UVC). Tim Gadang mengembangkan alat sterilisasi virus Covid-19 berbasis sinar UVC yang handy (ringan), portable (mudah dibawa), dan terjangkau bagi masyarakat luas.

“Alat sterilisasi portable ini didesain menggunakan lampu germicidal sinar UVC dengan panjang gelombang 254 nm yang dapat membunuh kuman dan virus pada masker dalam beberapa menit, sinar ini dapat mempengaruhi DNA mikroorganisme dan sangat efektif untuk merusak protein DNA virus,” urai Gadang.

Berikutnya Gerald Ensang T. dari P2 Fisika mengenalkan Pintu Disinfektan Mandiri dan Ramah Lingkungan “HandyDOOR-UVC” sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian COVID-19. Gerald dan tim mengembangkan ”HandyDOOR-UVC” yang merupakan suatu alat yang dirancang untuk mampu secara otomatis mensterilisasi bakteri dan virus yang menempel pada gagang pintu menggunakan sinar UVC.

“Sinar UVC merupakan cahaya elektromagnetik dengan panjang gelombang di antara 240 hingga 300 nanometer, telah dibuktikan mampu membunuh 99% atau lebih mikroorganisme patogenik dengan dosis minimal 40 mJ/cm2,” terang Gerald.

Pemateri terakhir, Dwi Hanto dari P2 Fisika mengenalkan Rancang Bangun LIDAR Berbasis Laser Dioda dan Optical Ranging untuk Penerapan Deteksi Pelanggaran Physical Distancing pada Era Adaptsi Kebiasaan Baru.

Tim Kelompok Penelitian Optoelektronika dan Kontrol mengembangkan detektor pelanggaran physical distancing (jaga jarak) dengan memanfaatkan LIDAR (light detection and ranging). “Detektor yang kami kembangkan cukup sederhana yaitu dengan memanfaatkan LIDAR yang tersedia di pasaran, yang diputar dengan menggunakan motor stepper,” ujar Dwi.

“Dalam menentukan jarak antar orang dalam kerumunan, kami melakukan dengan pendekatan operasi vector, selain itu, tim kami juga melakukan pengembangkan LIDAR berbasis laser dioda dan optical ranging dalam rangka penguasaan teknologi lidar sehingga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dari produk luar negeri,” sambungnya.

“Selain dimanfaatkan untuk detektor pelanggaran physical distancing, LIDAR juga memiliki aplikasi yang luas seperti terestrial mapping (pemetaan wilayah), komponen pembantu sistem otonom, pengukuran batimetri, dan atmosfer,” pungkas Dwi Hanto.

Sebagai penutup, Rike Yudianti, Kepala P2 Fisika mengatakan bahwa acara ini mempresentasikan kegiatan riset terkait Covid-19. “Kita juga mengundang pihak luar seperti media, agar bisa langsung memperkenalkan kegiatan riset yang ada pada kita semua,” jelasnya.

“Kita tahu bahwa teman-teman peneliti cukup adaptif dan kreatif untuk menyesuaikan risetnya di masa pandemi ini, sehingga saat ini dalam kondisi WFH maupun WFO sudah bisa terus aktif di dalam kegiatan risetnya,” imbuhnya.

Beberapa riset di LIPI sudah ada yang berlisensi seperti APJS, MFC, dan Si-SUSan, yang sudah diimplementasikan di beberapa rumah sakit. “Mudah-mudahan dari kegiatan riset ini, selanjutnya sudah bisa juga dilisensikan dan ada mitra yang tertarik,” harap Rike. (hrd/ ed. adl)