Disable Preloader

Berita

18 Agustus 2021

Riset untuk Kedaulatan Material dan Energi

Serpong, Humas LIPI. Deni Shidqi Khaerudini, peneliti Pusat Penelitian Fisika – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Fisika – LIPI), menyampaikan materi dengan judul “Peran Pengembangan Riset dalam Kedaulatan Material dan Energi di Indonesia” dalam Webinar Kemerdekaan: Riset dan Inovasi untuk Merah Putih, pada Rabu, (18/8). Deni menjelaskan semangat peneliti muda dalam pengembangan materi dan energi di Indonesia maupun level global.

“Tidak bisa dipungkiri, bahwa kita tidak bisa sendiri, kita harus berkolaborasi untuk meng-cover bagaimana teknologi pengurangan bahan bakar menuju ke hilir atau ke komersialisasi. Dan itu perlu kerja sama baik universitas dalam negeri maupun luar negeri termasuk untuk industri,” ujar peneliti Manajemen Energi Berkelanjutan ini.

Indonesia sudah berkomitmen dan melakukan langkah nyata ke arah ekonomi hijau (green economics). “Amanat itu tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Ratifikasi Kesepakatan Paris tentang pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) oleh para negara sebesar 29% (usaha sendiri) atau 41% (dengan bantuan internasional) pada tahun 2030 dengan menyampaikan Nationally Determined Contributions (NDC),” ungkap Deni.

“Sektor energi dapat mengurangi GRK sebesar 314-398 juta ton CO2 pada tahun 2030, melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan efisiensi energi, konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih,” imbuhnya.

Menurut Deni sudah ada beberapa langkah komitmen nyata Indonesia terkait perubahan iklim. “Aksi nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim antara lain melalui moratorium konversi hutan dan lahan gambut untuk mengurangi kebakaran hutan sebesar 82%, mendorong pembangunan hijau melalui pengembangan kawasan industri hijau seluas 12.500 hektar di Kalimantan Utara, serta membuka investasi dalam transisi energi melalui pengembangan biofuel, industri baterai lithium, dan kendaraan listrik,” terangnya.

“Mengapa kita perlu ke energi bersih atau hidrogen, bahwa berdasarkan laporan International Energy Agencies (IEA) menunjukkan bahwa karbondioksida (CO2), trennya terus naik dari tahun 1965, dan ketika mulai pada kesepakatan Paris tahun 2015, kita semua berharap menurunnya CO2,” ucap Deni.

“Bukti nyata bahwa pemanasan global memang terjadi. Dengan rentang 100 tahun, luas es abadi di kutub tiba-tiba menghilang. Berdasarkan laporan, kutub es abadi semakin berkurang dan berkurang. Artinya kita sendiri harus berupaya dengan mereduksi tadi,” ungkapnya.

Deni mengilustrasikan CO2 seperti selimut. “Mungkin CO2 penting untuk tanaman, tetapi jika terlalu berlebihan juga tidak baik. Seperti selimut mungkin baik untuk menghangatkan tubuh, tetapi kalau terlalu tebal maka akan menjadi panas. Itulah yang terjadi di bumi,” urainya. “Itu semua merupakan perubahan iklim, kenaikan temperatur, dan seterusnya. Maka kemudian para pemimpin dunia bersepakat mencoba menurunkan emisi CO2 ,” terang Deni dalam sesi Scientists’ Talk.

“Apa yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2050, ketika kita tidak berbuat apa-apa, maka CO2 yang ada akan berakumulasi seperti dari sektor pembangkit listrik, transportasi, industri, dan lain-lain. Oleh karena itu kita harus segera bertransisi ke energi yang ramah lingkungan sehingga bisa memotong emisi karbon hingga separuhnya,” tegasnya.

Lulusan program doktoral dari Jepang ini menjabarkan pendekatan teknologi disruptive progression pada penelitian hidrogen infrastruktur dengan green hidrogen. “Untuk industri listrik sumber energi utama dapat berbasis panas matahari, hidro, dan angin untuk menghasilkan listrik dengan emisi karbon rendah (low emission carbon). “Kita berharap ke emisi karbon rendah (low emission carbon) untuk segera beralih ke energi ramah lingkungan (green transition).” harapnya.

“Jika ingin dikembangkan ke arah energi hijau, maka bisa dengan energi berbasis angin maupun matahari sebagai media penyimpan terbaik, sehingga untuk aplikasi dan transportasi bisa efektif dan fleksibel,” ungkap ASEAN Science Diplomat tahun 2019 ini.

Dalam menyukseskan keberhasilan inovasi transisi tersebut secara nasional maupun global, dirinya mengungkapkan bahwa transisi energi perlu missing link seperti hidrogen (H2). “Aplikasi hidrogen sudah diterapkan oleh transportasi kereta berbasis hidrogen di Jerman yang menyelesaikan uji coba 2 tahun, 180.000 km, kini memperkenalkan stasiun hidrogen pertama di dunia untuk kereta api,” contoh Deni selain pesawat Airbus dan mobil Toyota, BMW, dan Jaguar.

Dalam paparannya yang menampilkan data World Economic Forum hingga April 2021, Indonesia menempati urutan keenam diantara negara-negara Asia Tenggara untuk nilai indeks transisi energi. “Hingga April 2021 ini bauran energi listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia baru mencapai sebesar 13,55%. Hal ini jauh dari target pada tahun 2025 adalah sebesar 23%,” jelas Deni. “Apa saja yang harus kita lakukan terkait kegiatan EBT, semoga kita bisa mendekati target 23%, dengan pemakaian panel surya dan seterusnya,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)